Login

10 Fakta Penting Tentang Sumpah Pemuda

Selalu ada proses yang harus dijalani atau ditempuh sebelum akhirnya tiba pada sebuah tujuan. Sumpah Pemuda juga begitu. Ini tercipta melalui proses, tepatnya ketika organisasi Pemuda yang memunculkan pemahaman kebangsaan mulai dibentuk dan bermunculan. Dan seterusnya, hingga hadirlah apa yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda, hingga sekarang.

Sumpah Pemuda yang merupakan ikrar sendiri dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Ini juga merupakan tonggak utama pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Dalam perjalanannya, pun meski ini berlangsung secara resmi, nyatanya kongres yang akhirnya menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda ini tak berjalan sesederhana itu. Ada banyak hal menarik serta patut dicatat dalam pelaksanaannya. Dikutip dari berbagai sumber, berikut 10 fakta penting mengenai Sumpah Pemuda.

Awalnya bukan “Sumpah Pemuda”

Ditulis di atas secarik kertas oleh Mohammad Yamin, rumusan Sumpah pemuda awalnya tidak disebut sebagai Sumpah Pemuda. Istilah ini baru muncul beberapa hari setelah kongres usai. Meski begitu, peringatan Sumpah Pemuda tetap didasarkan pada tanggal pembacaan ikrar, yakni 28 Oktober.

Ada 3 hal yang ditegaskan dalam Sumpah Pemuda

Ada 3 keputusan yang dihasilkan dalam Kongres Pemuda, yang kemudian dikenal sebagai Sumpah pemuda. Adapun bunyi tiga keputusan kongres tersebut sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda adalah: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia; Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia; Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Naskah ditulis menggunakan ejaan van Ophuysen

Sumpah pemuda yang terdiri dari tiga butir ditulis menggunakan ejaan van Ophuysen. Ini adalah ejaan yang digunakan untuk menuliskan kata-kata Melayu menurut model yang dimengerti oleh orang Belanda.

Bahasa Belanda mendominasi

Dugunakannya bahasa Belanda oleh hampir sebagian pembicara dalam Kongres menjadi tanda bahwa bahasa ini begitu mendominasi kala itu. Meski begitu ada juga yang mahir berbahasa Melayu yang kelak menjadi bahasa Indonesia, yakni Mohammad Yamin. Ia bertugas sebagai Sekretaris Sidang dan menerjemahkan pidato serta kesepakatan sidang ke dalam bahasa Melayu.

Tidak ada kata “Merdeka” dalam Kongres

Yel-yel “Merdeka” yang sudah berulangkali berkumandang, tepatnya sejak Kongres pertama berlangsung, rupanya menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Belanda. Sampai-sampai polisi Belanda harus mengawasi dengan ketat jalannya Kongres. Belanda lantas mengeluarkan larangan kata “Merdeka” dalam Kongres.

Naskah Sumpah Pemuda Ditulis oleh M. Yamin

Mohammad Yamin yang menjadi Sekretaris dalam kongres turut mengikuti rapat marathon yang digelar 27-28 Oktober 1928. Ia juga berdiskusi bersama utusan lain dari berbagai daerah. Berdasarkan diskusi dalam rapat tersebut, tercetuslah Ikrar Pemuda.

Yamin sendiri bertugas untuk meramu rumusan dari hasil diskusi. Hebatnya, tak butuh waktu lama bagi Yamin untuk merumuskan Ikrar Pemuda.

Cuma 6 perempuan yang ikut Kongres

Peran perempuan dalam Kongres Pemuda II tidak begitu menonjol. Ini ditandai dengan sangat sedikitnya jumlah peserta pemudi yang hadir dalam kongres.

Berdasarkan buku resmi Panduan Museum Sumpah Pemuda, peserta kongres yang tercatat hanya ada 82 orang. Padahal sejatinya ada 700-an peserta yang hadir di gedung yang digunakan untuk melangsungkan kongres. Peserta perempuan sendiri hanya ada enam orang, yaitu Dien Pantow, Emma Poeradiredjo, Jo Tumbuan, Nona Tumbel, Poernamawoelan, dan Siti Soendari.

Lagu Indonesia Raya Dibawakan Tanpa Syair

Kongres Pemuda juga dihadiri oleh Wage Roedolf Soepratman yang populer berkat lagu kebangsaan ciptaannya, Indonesia Raya. Pada saat itu ia telah menciptakan lagu tersebut dan membawakannya dalam kongres. Namun karena kongres itu dijaga ketat oleh kepolisian Belanda, dan khawatir syair lagu itu akan menimbulkan konflik, maka ia pun hanya membawakan lagu Indonesia Raya ciptaannya dengan irama biola saja.

Rumah tempat kongres jadi Museum Sumpah Pemuda

Kongres Pemuda dilangsungkan di sebuah rumah di jalan Kramat Raya nomor 106, Jakarta Pusat. Berkat Kongres itu, pada 1972, rumah itu ditetapkan sebagai cagar budaya dan dijadikan sebagai Museum Sumpah Pemuda.

Istilah Sumpah Pemuda Baru Berlaku 31 Tahun Setelah Kongres Pemuda II

dalam Kongres Pemuda II yang dilaksanakan pada 27-28 Oktober 1928, istilah Sumpah Pemuda belum muncul. Baru setelah 31 tahun kemudian. Istilah Sumpah Pemuda baru diberlakukan sejak 1959 dengan dikeluarkannya Keppres No 316 tahun 1959 tertanggal 16 Desember 1959 yang menetapkan Hari Sumpah Pemuda sebagai Hari Nasional.

Leave your vote

2 points
Upvote Downvote

Total votes: 2

Upvotes: 2

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

0 responses on "10 Fakta Penting Tentang Sumpah Pemuda"

    Leave a Message

    © 2017 XL Axiata. All rights reserved. Privacy Policy

    Hey there!

    Sign in

    Forgot password?

    Don't have an account? Register

    Close
    of

      Processing files…

      X
      X