Login

Melacak Asal Muasal Virus Corona, Epidemi Alami atau Rekayasa Genetika?

Hari ini, siapa yang tak mengenal Virus Corona? Kemunculannya selama tiga bulan terakhir bukan saja telah membuat panik orang satu negara, tapi puluhan bahkan ratusan di luar sana. Termasuk kita yang ada di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, hingga Jumat (27/3) saja, setidaknya lebih 800 orang di negeri ini telah terinfeksi virus Corona – dengan puluhan diantaranya dinyatakan sembuh, sementara puluhan lagi meninggal dunia. Dan yang lebih mengejutkan, ini terjadi hanya dalam hitungan minggu, mengingat pasien Corona pertama di Indonesia terkonfirmasi pada awal Maret 2020. Artinya, lebih dari dua bulan setelah virus ini pertama ditemukan. Nah, pertanyaannya sekarang, dari mana sih sebenarnya asal muasal virus Corona ini?

Virus ini pertama kali muncul pada bulan Desember 2019. Lebih tepatnya di sebuah wilayah bernama Wuhan, yang merupakan ibu kota provinsi Hubei, Tiongkok. Kala itu, banyak pasien di kota ini dilaporkan sakit setelah mengunjungi Pasar Grosir Makanan Laut Hua Nan, sebuah pasar makanan laut dan hewan yang terdapat di kota tersebut. Pasar Hua Nan sendiri telah ditutup sejak 1 Januari 2020.

Meski begitu, penelitian terbaru menemukan bahwa virus corona atau disebut juga Covid-19 bukan berasal dari pasar tersebut. Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr Yu Wenbin menganalisis data genomik dari 93 sampel SARS-Cov-2 alias virus corona dari 12 negara. Tujuannya untuk melacak sumber infeksi dan memahami bagaimana penyebarannya.

Hasilnya, diketahui bahwa saat penyebaran cepat terjadi di Pasar Hua nan, terjadi pula dua ekspansi populasi besar pada 8 Desember 2019 dan 6 Januari 2020.

Penelitian yang dipublikasikan di situs institut penyelenggara tersebut pada pekan lalu menyatakan bahwa kemungkinan penyebaran virus dimulai dari orang ke orang. Dan bukannya pada awal Desember 2019, tetapi sejak akhir November 2019.

Studi untuk mengetahui apakah benar Pasar Hua nan di Wuhan menjadi satu-satunya tempat kelahiran virus corona dianggap sangat penting. Hal ini dilakukan untuk menemukan sumber aslinya. Tim peneliti juga merasa perlu untuk menentukan inang perantara agar dapat mengendalikan epidemi dan mencegah penyebarannya lagi.

Menurut tim peneliti, seandainya saja informasi mengenai virus ini lebih menyeluruh dan didapat lebih awal oleh seluruh lapisan masyarakat, maka angka infeksi tidak akan tinggi. Baik secara nasional maupun global.

Sekedar informasi, hingga Jumat (27/3) saja, virus Corona atau Covid-19 diketahui telah menginfeksi lebih dari 500 ribu orang di seluruh dunia. Dan ini bukan saja menghantui puluhan, tapi ratusan negara. 199 Negara, lebih tepatnya. Dari total kasus tersebut, jumlah kematian mencapai 24.136 pasien, sedangkan 124.451 pasien telah dinyatakan sembuh. Tidak mengherankan, jika WHO pun kemudian menetapkan ini sebagai pandemi.

(Baca juga: 8 Ilmuwan Wanita Paling Populer Sepanjang Sejarah)

Tak berhenti sampai di Dr Yu Wenbin, di belahan dunia lainnya, para Ilmuwan lain juga tak kalah berlomba untuk melacak asal-usul virus corona. Alih-alih membenarkan anggapan sejumlah pihak yang menyebut virus ini (SARS-CoV-2) sebagai rekayasa genetika, ilmuwan membuktikan bahwa ini murni disebabkan oleh epidemi alami.

Setidaknya, itulah yang diungkapkan Kristian Andersen, PhD, seorang profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research. Ia melakukan penelitian gabungan bersama sejumlah peneliti dari berbagai lembaga, sebelum akhirnya menyimpulkan bahwa kemungkinan asal SARS-CoV-2 mengikuti salah satu dari dua skenario yang mungkin terjadi.

Skenario pertama, sebagaimana dilansir dari Kompas.com, virus berevolusi di keadaan patogen saat ini melalui seleksi alam di inang non-manusia, kemudian melompat ke manusia. Melalui skenario ini (dahulu), diketahui bagaimana wabah virus corona sebelumnya muncul dan menular kepada manusia. SARS misalnya, melalui musang. Sementara MERS melalui unta.

Untuk corona jenis baru ini (SARS-Cov-2), para peneliti mengusulkan kelelawar sebagai reservoir yang paling mungkin. Ini lantaran virus corona baru sangat mirip dengan virus corona pada kelelawar.

Meski begitu, tidak ada catatan mengenai kasus penularan langsung dari kelelawar ke manusia. Hal ini menunjukkan kemungkinan perantara yang terlibat antara kelelawar dan manusia. Dalam skenario ini, kedua spike protein SARS-CoV-2 bagian RBD yang mengikat sel dan situs pembelahan yang membuka celah untuk virus, akan berevolusi ke kondisi saat ini sebelum memasuki manusia.

Skenario lainnya, versi virus non-patogenik melompat dari inang hewan ke manusia, sebelum akhirnya berevolusi menjadi kondisi patogen dalam populasi manusia. Ambil contoh beberapa virus corona dari pangolin, seekor mamalia mirip armadilo yang ditemukan di Asia dan Afrika. Mamalia ini memiliki struktur RBD yang sangat mirip dengan SARS-CoV-2. Virus corona dari trenggiling bisa ditularkan ke manusia, baik secara langsung atau melalui inang perantara seperti musang. Selanjutnya, karakteristik spike protein lain yang berbeda dari virus SARS-CoV-2, situs pembelahan, dapat berevolusi dalam inang manusia.

Kemungkinkan evolusi itu terjadi melalui sirkulasi terbatas yang tidak terdeteksi dalam populasi manusia sebelum awal epidemi. Para peneliti menemukan bahwa situs pembelahan virus SARS-CoV-2, tampak mirip dengan situs pembelahan strain flu burung yang telah terbukti menularkan dengan mudah di antara orang-orang.

Apapun itu, bukan perkara mudah untuk mengetahui pada skenario mana asal muasal virus corona SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 ini bisa ditetapkan. Bahkan bagi para ilmuwan.

Dunia di bawah kepungan Virus Corona

Bukan tanpa alasa ketika WHO akhirnya menetapkan Virus Corona sebagai pandemi global. Nyatanya, virus mengerikan ini memang telah menorehkan jejaknya di hampir 200 negara. Korbannya pun tidak main-main, mencapai 529.614 kasus menurut data Worldometer. Dengan jumlah kematian mencapai 23.976, sementara angka mereka yang sembuh adalah 123.380.

Setidaknya ada 5 negara yang dalam catatan Worldmeter memiliki kasus terbanyak. Negara-negara tersebut meliputi Amerika Serikat dengan 83.672 kasus, 1.209 orang meninggal, dan total sembuh 1.864; China, dengan 81.285 kasus, 3.287 orang meninggal, dan total sembuh 74.051; Italia, dengan 80.589 kasus, 8.215 orang meninggal, dan total sembuh 10.361; Spanyol, dengan 57.786 kasus, 4.365 orang meninggal, dan total sembuh 7.015; serta Jerman, dengan 43.938 kasus, 267 orang meninggal, dan total sembuh 5.673.

Menyusul negara-negara tersebut, ada Iran, Perancis, Swiss, Inggris, dan Korea Selatan.

Di Indonesia, kasus positif virus Corona sendiri nyaris terbang dari hari ke harinya. Hingga JUmat, (27/3), berdasarkan keterangan terbaru dari juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, ada sekitar 1.046 kasus Positif, 46 diantaranya Sembuh, sementara 87 orang meninggal.

Jumlah tersebut, jika dibandingkan dengan angka di hari sebelumnya menunjukkan kenaikan sebanyak 153 kasus.

Leave your vote

14 points
Upvote Downvote

Total votes: 14

Upvotes: 14

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

6 responses on "Melacak Asal Muasal Virus Corona, Epidemi Alami atau Rekayasa Genetika?"

  1. Sampai sekarang pun pandemi ini belum berakhir, masih terus menerus menyebar, ini memang ujian yang nyata dimana kita diharuskan untuk berusaha dan tetap bersabar serta berdo’a dalam menghadapinya, moga dunia lekas sembuh.

  2. 1 2

Leave a Message

© 2017 XL Axiata. All rights reserved. Privacy Policy

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

    Processing files…

    X
    X