Login

Mengenal 6 tokoh yang Diberi Gelar Pahlawan Nasional 2019

Sejak bertahun-tahun yang lalu, tanggal 10 November telah diperingati sebagai Hari Pahlawan oleh bangsa Indonesia. Di hari ini pula, biasanya masyarakat Indonesia secara khusus mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah berkorban memperjuangkan kemerdekaan. Dan ini berlangsung terus hingga kini.

Tapi, pernah ada yang bertanya-tanya nggak sih, apa sih sebenarnya pahlawan itu? Siapa yang bisa kita sebut sebagai pahlawan? Semata mereka yang berkorban nyawa untuk memperjuangkan kemerdekaan kah? Atau… lebih dari itu?

Kata pahlawan sendiri pada dasarnya berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu phala-wan, yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama) adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Dan apakah ini artinya melulu di medan perang, dalam arti yang sesungguhnya? Tidak juga. Buktinya ada yang namanya Pahlawan Nasional. Jika mengacu pada Wikipedia, ini bisa diartikan sebagai gelar penghargaan tingkat tertinggi di Indonesia, gelar anumerta yang diberikan oleh Pemerintahan Indonesia atas tindakan yang dianggap heroik – didefinisikan sebagai “perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa bagi warga masyarakat lainnya” – atau “berjasa sangat luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara”. Orang-orang itu bisa seorang aktivis, bangsawan, politisi, bahkan jurnalis.

Tahun 2019 ini, melalui Keputusan Presiden Nomor 120 TK 2019 yang ditandatangani 7 November 2019 lalu, Presiden Jokowi menetapkan enam tokoh sebagai pahlawan nasional. Tokoh-tokoh tersebut terdiri dari anggota BPUPKI hingga jurnalis wanita. Nah, siapa saja mereka?

A.A. Maramis

A.A. Maramis atau bernama lengkap Alexander Andries Maramis lahir di Manado pada 20 Juni 1897. Ia merupakan Menteri Keuangan Indonesia yang kedua, setelah ditunjuk Menteri Keuangan pertama yakni Sasmi Sastrawidagda yang hanya menjabat selama dua minggu dikarenakan sakit. Bisa dibilang, secara de facto, A.A. Maramis adalah Menteri Keuangan pertama Indonesia. Selama menjabat sebagai Menteri Keuangan, A.A. Maramis berperan penting dalam percetakan dan perkembangan uang kertas yang pertama di Indonesia atau disebut ORI (Oeang Republik Indonesia) dengan tanda tangannya yang tertera pada uang kertas tersebut.

Ia juga sempat menjadi anggota BPUPKI yang ditunjuk sebagai anggota Perancang Undang-Undang Dasar sebelum disetujui BPUPKI. Selain itu, A.A. Maramis juga menjadi anggota Panitia Lima yang ditugaskan oleh presiden kedua Indonesia, Soeharto untuk mendokumentasikan perumusan Pancasila.

Sultan Himayatuddin

Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau dikenal dengan gelar Oputa Yi Koo adalah putra daerah yang memimpin perlawanan terhadap agresi, invasi, dan imperialisme Belanda di wilayah kesultanan Buton pada abad ke-18. Ia pernah dua kali menjabat sebagai sultan, yakni sebagai Sultan Buton ke-XX (1750-1752) dan ke-XXIII (1760-1760) sebelum akhirnya wafat pada tahun 1776 masehi.

(Baca juga: Arti Pahlawan di Era Digital, Siapa Pantas Menyandangnya?)

Sebagai pahlawan, Himayatuddin dinilai berjasa karena telah berhasil menghapus traumatik dari stigma sejarah, yang menyebut Buton sebagai wilayah yang berkhianat kepada NKRI. Gelar Oputa Yi Koo sendiri, dalam bahasa masyarakat setempat, bermakna raja atau penguasa yang bergerilya melawan penjajah di dalam hutan.

K.H. Masjkur

K.H. Masjkur adalah tokoh ulama yang ikut berperan dalam perjuangan meraih kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Berbasis dari pesantren di Malang, K.H. Masjkur menimba ilmu di beberapa pesantren di berbagai daerah hingga aktif menjadi ketua cabang NU di Malang dan menjadi anggota PBNU yang berkantor di Surabaya. K.H. Masjkur juga aktif menjadi anggota BPUPKI.

Keikutsertaannya dalam memerjuangkan Indonesia ditunjukkan melalui keanggotaannya di PETA (Pembela Tanah Air) serta menjadi anggota Laskar Hizbullah yang berada di bawah naungan Masyumi. K.H. Masjkuri menghimpun pemuda Islam yang berada dalam Laskar Hizbullah untuk ikut turun seiring dengan tragedi perobekan bendera di Hotel Yamato Surabaya.

Ruhana Kudus

Ruhana Kudus adalah seorang wartawan perempuan pertama di Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat. Ia mendirikan sekolah Kerajinan Amaia Setia (KAS) di Kotogadang yang mendidik keahlian anak-anak perempuan.

Wanita kelahiran 20 Desember 1884 ini juga menjadi pendiri surat kabar Soenting Melajoe pada Juli 1912, setelah sebelumnya mengabdi di surat kabar Oetoesan Melajoe yang terbit sejak 1911. Ia juga disebut sebagai pendiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

Abdul Kahar Mudzakkir

Abdul Kahar Mudzakkir adalah salah satu tokoh muslim yang ikut berjasa dalam proses pendirian dan pengembangan Sekolah Tinggi Islam (STI) yang bertransformasi menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Di sini, dia menjabat sebagai rektor hingga tahun 1960.

Kahar Mudzakir juga merupakan seorang tokoh BPUPKI. Melalui tulisan-tulisannya di majalah Suara Azhar dan Pilihan Timur serta surat kabar Palestina Al-Tasurah, jebolan Kairo ini secara aktif menyuarakan perjuangan kemerdekaan Indonesia di dunia Timur Tengah. Selain itu, Mudzakkir juga membawa nama Indonesia m. Mudzakkir yang hidup dan tumbuh di lingkungan Muhammadiyah, menjadi anggota BPUPKI yang terlibat dalam merumuskan bentuk negara bersama tokoh Islam dari organisasi Nahdlatul Ulama KH. Wahid Hasyim.

Dr. Sardjito

Dr. Sardjito merupakan dokter sekaligus rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia kemudian menjadi rektor UII periode 1963 – 1970. Semasa hidupnya, Dr Sardjito telah menciptakan sejumlah vaksin, mulai dari untuk typhus, kolera, hingga disentri.

Beliau juga berkontribusi dengan membuat makanan dan multivitamin untuk para tentara RI yaitu Biskuit Sardjito. Atas dedikasinya dalam bidang pendidikan dan kesehatan pada era perjuangan kemerdekaan, namanya bahkan diabadikan sebagai nama rumah sakit di Yogyakarta, yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 2

Upvotes: 1

Upvotes percentage: 50.000000%

Downvotes: 1

Downvotes percentage: 50.000000%

0 responses on "Mengenal 6 tokoh yang Diberi Gelar Pahlawan Nasional 2019"

    Leave a Message

    © 2017 XL Axiata. All rights reserved. Privacy Policy

    Hey there!

    Sign in

    Forgot password?

    Don't have an account? Register

    Close
    of

      Processing files…

      X
      X