Login

Negara dengan Kasus Eksploitasi Anak Terburuk

Eksploitasi anak seperti telah isu lama bagi banyak negara. Dalam artian, ini bisa terjadi dimana saja; mau itu negara maju, negara berkembang apalagi negara dunia ketiga. Di sejumlah negara, ini bahkan telah menjadi masalah mendesak yang bukan saja harus segera ditangani tetapi juga ditemukan jalan keluarnya. Tentu saja, jika tidak mau anak-anak yang merupakan harapan bangsa ini tumbuh tidak semestinya, lantaran eksploitasi.

Eksploitasi anak sendiri bisa diatikan sebagai suatu tindakan memanfaatkan anak-anak secara tidak etis untuk kepentingan ataupun keuntungan para orang tua maupun orang lain. Bentuknya ada tiga, jika mengacu pada UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Itu termasuk Eksploitasi fisik, dimana anak dipaksa untuk bekerja demi keuntungan orang tua atau orang lain; eksploitasi sosial, yang berkaitan dengan segala sesuatu yang membuat terhambatnya perkembangan emosional anak; dan eksploitasi seksual dimana anak dilibatkan dalam ektivitas seksual yang pelum dipahaminya.

Dalam laporan tahunan yang dirilisnya, “End of Childhood Report”, Save the Children menyebutkan bahwa setidaknya ada 1,2 miliar anak-anak mengalami eksploitasi di dunia. Paling umum adalah pelecehan dan penderitaan, sebagai akibat dari kemiskinan, konflik dan diskriminasi.

(Baca juga: Daftar Negara Tujuan Para Pengungsi, AS Teratas)

Laporan ini menyoroti 10 “tren utama yang memerlukan tindakan segera,” termasuk mencegah anak perempuan menikah sebelum ulang tahun ke-18, mengurangi tingkat kehamilan remaja, menyediakan akses ke sekolah dan menghapuskan pekerja anak.

Masih menurut laporan ini, setidaknya 10 negara keluar sebagai yang terburuk dalam urusan eksploitasi anak. Dan kesemuanya berada di benua Afrika. Mulai dari Niger, yang dianggap paling berbahaya untuk anak-anak, diikuti oleh Mali, Republik Afrika Tengah, Chad, Sudan Selatan, Somalia, Nigeria, Guinea, Sierra Leone, hingga Republik Demokratik Kongo.

Sebagai sebuah wilayah, Afrika sendiri diketahui ‘penuh’ dengan risiko tinggi pelanggaran pekerja anak dengan mayoritas negara termasuk dalam kategori ‘ekstrim’ dan ‘berisiko tinggi’.

Meski begitu, laporan ini juga menyebutkan bahwa ada tren membaik secara global, yang secara tidak langsung menguntungkan bagi anak-anak. Ini bahkan terjadi di Niger. Pada 2018 lalu, negara ini membuat kemajuan moderat dalam upaya menghapus bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak. Dimana Mahkamah Agung menetapkan preseden hukum yang melarang praktik wahaya. Apa ini?

Wahaya adalah suatu bentuk perbudakan di Niger, dimana laki-laki membeli perempuan untuk dijadikan sebagai budak, biasanya antara usia 9 dan 11 tahun. Pemerintah juga mengadopsi undang-undang untuk memberikan perlindungan dan bantuan kepada para pengungsi internal, termasuk anak-anak, untuk mencegah eksploitasi mereka dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak.

Somalia membuat sedikit kemajuan berkat Kebijakan Ketenagakerjaan Nasional dan Kode Perburuhan yang diperbarui, dimana ini mengidentifikasi pekerjaan atau kegiatan berbahaya yang dilarang oleh anak-anak. Selain itu, pasukan pemerintah menyelamatkan 32 anak yang telah diculik oleh al-Shabaab. Sementara jeleknya, undang-undang tidak secara pidana melarang perdagangan anak untuk pekerjaan, eksploitasi seksual komersial, atau perekrutan anak-anak oleh kelompok-kelompok bersenjata non-negara.

Lain Niger dan Somalia, lain pula Sudan Selatan, yang disebut tidak mengalami perbaikan. Pun meski negara ini menyetujui Protokol Opsional PBB tentang Konflik Bersenjata dan Penjualan Anak, Pelacuran Anak dan Pornografi Anak, dan menandatangani Perjanjian Revitalisasi tentang Resolusi Konflik di Republik Sudan Selatan. Ini tak lain karena Pasukan Pertahanan Rakyat Sudan Selatan merekrut anak-anak, kadang-kadang secara paksa, untuk melawan kelompok-kelompok oposisi. Anak-anak di Sudan Selatan terlibat dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak, termasuk dalam konflik bersenjata dan penggembalaan ternak.

Sementara ke-10 negara Afrika di atas menempatkan dirinya sebagai negara yang paling tidak aman bagi anak, sejumlah negara seperti Singapura, Slovenia, Norwegia, Swedia, Finlandia, Irlandia, Belanda, Islandia, Italia, dan Korea Selatan, disebut Save The Children sebagai negara terbaik untuk anak-anak.

Leave your vote

6 points
Upvote Downvote

Total votes: 10

Upvotes: 8

Upvotes percentage: 80.000000%

Downvotes: 2

Downvotes percentage: 20.000000%

1 responses on "Negara dengan Kasus Eksploitasi Anak Terburuk"

  1. Di Indonesia pun masih banyak terjadi. Semoga dapat diatasi dengan baik.

Leave a Message

© 2017 XL Axiata. All rights reserved. Privacy Policy

Hey there!

Sign in

Forgot password?

Don't have an account? Register

Close
of

    Processing files…

    X
    X